Mengapa Ujian Terberat Adalah Jawaban Atas Doa Terbesarmu?
(Sebuah Perspektif NeuroBiologi, Iman, dan Rendang)
Pernahkah kamu duduk termenung setelah melewati hari yang panjang, merasa
sangat lelah, dan bertanya-tanya kapan hidup akan terasa sedikit lebih mudah?
Di usia dua puluhan atau lebih, kita sering kali dihadapkan pada realita yang
jauh dari ekspektasi. Kita bekerja keras, menyusun rencana dengan sangat rapi,
dan memanjatkan doa-doa terbaik di sepertiga malam. Kita meminta kesuksesan,
meminta jalan yang lapang, dan memohon agar keluarga kita diangkat derajatnya.
Namun, alih-alih mendapatkan karpet merah menuju kesuksesan, yang datang justru serangkaian masalah yang datang bertubi-tubi. Rencana gagal, ditipu orang, kehilangan pekerjaan, atau dihadapkan pada pengkhianatan dari orang terdekat. Pada titik terendah itu, sangat manusiawi jika kita merasa bahwa semesta sedang tidak berpihak, atau bahkan merasa bahwa Tuhan mengabaikan doa kita.




