Minggu, 12 Juli 2026

Keadilan Yang Terjungkal

Membaca Realitas "Negeri Penjahat" Lewat Pesan Nabi

Bayangkan situasi ini: Anda memergoki perampok beraksi, segera melapor ke pihak berwajib, namun ironisnya, justru tangan Anda yang diborgol. Alasannya? Sang perampok ternyata adalah si pemegang kunci sel itu sendiri.

Skenario di atas terdengar seperti naskah film distopia murahan, bukan? Sayangnya, itulah potret telanjang dari sistem hukum di banyak negara hari ini. Kita hidup di era di mana kebenaran sering kali memakan tuannya sendiri.

Ada sebuah kutipan tajam yang kerap disematkan pada Edward Snowden—pria yang mengorbankan hidupnya demi membongkar skandal penyadapan massal oleh pemerintah Amerika Serikat. Bunyinya seperti ini:

"Jika mengungkap kejahatan justru membuatmu diperlakukan layaknya penjahat, itu artinya kamu sedang dipimpin oleh para kriminal."

Satu kalimat itu menampar kesadaran kita. Ia merangkum betapa rapuhnya sistem keadilan ketika sudah jatuh ke tangan elite yang korup. Namun, yang jauh lebih menarik, kritik sosiopolitik modern ini ternyata menemukan gaungnya pada ajaran spiritual Islam. Belasan abad yang lalu, Nabi Muhammad SAW telah memetakan patologi kekuasaan semacam ini dengan sangat presisi.

Mari kita bedah titik temu antara jeritan keadilan hari ini dengan peringatan sang Nabi.

Negeri yang Dibajak oleh Pelindung Kejahatan

Untuk memahami kedalaman kutipan Snowden, kita harus melihatnya bukan sekadar sebagai deretan kata puitis, melainkan diagnosis medis atas penyakit sebuah negara.

Snowden tidak diberi medali kehormatan usai meniup peluit kebenaran. Ia diburu, paspornya dicabut, dan dicap pengkhianat. Realitas getir ini tak hanya monopoli Amerika. Tengok saja di sekeliling kita—bahkan mungkin di negeri sendiri.

Kita terlalu sering mendengar jurnalis yang membongkar korupsi malah dijerat pasal pencemaran nama baik. Aktivis lingkungan yang membela tanah adat justru dikriminalisasi. Atau, pegawai biasa yang melaporkan penggelapan dana di kantornya berakhir dipecat dan diteror.

Ketika hukum tidak lagi difungsikan sebagai timbangan keadilan, melainkan berubah menjadi tameng untuk melindungi kepentingan segelintir elite, di titik itulah negara telah dibajak. Penguasa yang menggunakan palu hakim untuk memenjarakan orang jujur sejatinya sedang mengonfirmasi status mereka sendiri. Mereka bukan pelayan rakyat, melainkan "penjahat" yang kebetulan mengenakan jas rapi dan memegang stempel konstitusi.

Doa Langit untuk Pemimpin yang "Menyusahkan"

Jauh sebelum istilah whistleblower atau negara hukum digaungkan, Islam sudah menegaskan bahwa kekuasaan bukanlah privilese. Ia adalah amanah yang sangat mematikan jika disalahgunakan. Kerusakan terparah dalam sebuah peradaban selalu bermula dari pembusukan di tingkat pemimpinnya.

Lantas, bagaimana Nabi Muhammad SAW merespons penguasa yang gemar menghukum orang-orang benar? Beliau tidak hanya memberi peringatan, tapi memanjatkan sebuah doa yang berisi ancaman langsung. Dalam hadis sahih riwayat Imam Muslim, Rasulullah SAW berdoa:

"Ya Allah, barangsiapa yang diberi tanggung jawab mengurus urusan umatku, lalu ia menyusahkan mereka, maka susahkanlah dia. Dan barangsiapa yang diberi tanggung jawab mengurus urusan umatku, lalu ia bersikap kasih sayang (memudahkan) kepada mereka, maka kasih sayangilah dia."
(HR. Muslim no. 1828)

Perhatikan frasa "menyusahkan rakyat". Menghukum, memenjarakan, atau meneror warga negara yang berniat baik membongkar kebusukan adalah bentuk "menyusahkan" yang paling brutal. Praktik ini membunuh rasa aman, mengebiri keadilan, dan menyebarkan iklim ketakutan di tengah masyarakat luas.

Doa Nabi ini menjadi alarm keras. Elite yang zalim mungkin merasa menang karena berhasil memanipulasi hukum dunia dan membungkam suara kritis. Namun, doa tersebut memastikan bahwa mereka sedang menantang keadilan ilahi. Cepat atau lambat, Sang Pencipta sendiri yang akan menyusahkan urusan hidup dan akhirat penguasa semacam itu.

Kriminal di Mata Negara, Pahlawan di Mata Tuhan

Salah satu senjata paling mematikan dari sebuah "negeri penjahat" adalah stigma. Sistem akan bekerja ekstra keras untuk melabeli penyuara kebenaran sebagai perusuh, pembuat makar, atau kriminal. Tujuannya sederhana: membunuh karakter mereka di mata publik sehingga pesannya ikut terkubur.

Di sinilah Islam hadir menawarkan rekonstruksi moral yang melegakan. Ketika negara menstempel para pelapor kejahatan sebagai penjahat, Nabi Muhammad SAW justru memberikan mereka panggung kehormatan tertinggi. Beliau bersabda:

"Sebaik-baik jihad adalah menyampaikan kalimat kebenaran (keadilan) di hadapan penguasa yang zalim."
(HR. Abu Daud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Ini adalah validasi spiritual yang luar biasa. Berdiri tegak menentang arus kebohongan negara dan membongkar kejahatan struktural adalah bentuk Jihadul Kalimah (jihad argumen). Mengapa disebut jihad yang paling mulia? Karena harganya sangat mahal. Taruhannya adalah hilangnya mata pencaharian, direnggutnya kebebasan, atau bahkan melayangnya nyawa.

Bagi siapa pun yang hari ini sedang dipojokkan karena berani jujur, ajaran ini adalah jangkar penyeimbang kewarasan. Biarlah ruang sidang di dunia memvonis Anda bersalah. Sebab di pengadilan Tuhan, Anda berdiri di barisan depan sebagai pejuang yang bermartabat.

Era Penipuan dan Naiknya Para 'Ruwaibidhah'

Pertanyaannya, bagaimana bisa sebuah negara sampai jatuh ke tangan para penipu yang berpura-pura menjadi pahlawan? Siklus sosiologis ini, lagi-lagi, sudah diprediksi belasan abad lalu. Nabi SAW menyebut fase kelam ini sebagai Sanawatun Khowaadi'ah—tahun-tahun yang penuh dengan tipu daya (era post-truth).

Simak deskripsi menakutkan dalam hadis ini:

"Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh penipuan. Saat itu pendusta dibenarkan, sedangkan orang jujur didustakan. Pengkhianat dipercaya, sementara orang yang amanah justru dianggap khianat. Dan pada saat itu, yang berbicara adalah Ruwaibidhah." Sahabat pun bertanya, "Siapakah Ruwaibidhah itu?" Beliau menjawab, "Orang bodoh (rendahan) yang turut campur dalam urusan masyarakat luas."
(HR. Ibnu Majah)

Membaca hadis ini rasanya seperti sedang membaca berita hari ini. Terjadi disorientasi nilai secara masif. Para koruptor dan oligarki diberi karpet merah, sementara aktivis, mahasiswa, dan rakyat biasa yang tulus justru dituduh sebagai anti-negara.

Lebih parah lagi, panggung publik dikuasai oleh Ruwaibidhah—orang-orang tanpa integritas, miskin kapasitas moral, dan nirempati yang tiba-tiba duduk di posisi strategis. Mereka inilah yang mendengungkan narasi-narasi kosong untuk membenarkan kezaliman, menutupi kejahatan majikannya dengan logika yang menyesatkan.

Catatan Akhir: Menjaga Kompas Kewarasan

Membaca kutipan Snowden dan menyandingkannya dengan sabda Nabi memberikan kita kacamata yang utuh untuk melihat realitas zaman. Kejahatan yang dilembagakan oleh penguasa adalah sebuah fakta sejarah yang terus berulang, namun begitu pula dengan perlawanannya.

Bagi kita yang harus bernapas di tengah iklim politik yang—mungkin—sedang tidak baik-baik saja, pesannya sangat jelas: jangan biarkan kompas moral di dada kita ikut rusak.

Menyuarakan keadilan memang menakutkan, apalagi jika risikonya dikriminalisasi. Namun, sejarah selalu berpihak pada kebenaran. Sehebat apa pun penguasa zalim memelintir pasal dan merancang kebohongan, mereka tak akan sanggup membatalkan hukum alam dan keadilan Tuhan.

Pada akhirnya, bagi mereka yang tetap memeluk erat kejujuran meski diperlakukan layaknya pesakitan, kemenangan sesungguhnya sudah berada di tangan. Mereka mungkin kehilangan kemerdekaan raga, tapi jiwa mereka merdeka dari tunduk pada kezaliman. Dan di dunia yang dikuasai penjahat, mempertahankan kemerdekaan jiwa adalah sebaik-baiknya perlawanan.

Tidak ada komentar:

ebook